Senin, 13 Agustus 2018

Landasan Teori Multimedia 
Pembelajaran

A.      Pengertian Media Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran merupakan aspek terpenting agar tercapainya tujuan pembelajaran. Komunikasi yang terjalin dalam pembelajaran antara guru dan siswa harus diperhatikan. Guru, sebagai fasilitator atau salah satu sumber belajar siswa harus mampu mengkomunikasikan materi yang diajarkan dengan baik agar tercapainya tujuan pembelajaran tersebut. Cara menyampaikan materi ajarpun bisa dengan beberapa cara, melalui lisan ataupun tulisan. Namun,penyampaian itu dapat efektif maka di perlukan media pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan pembelajaran.
Menurut KBBI, media dapat diartikan sebagai perantara, penghubung; alat (sarana) komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk, yang terletak diantara dua pihak (orang, golongan, dan sebagainya). Sedangkan media pembelajaran. Jadi, secara umum bisa diartikan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu proses belajar mengajar. Yaitu segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada peserta didik (siswa/murid).

B.      Multimedia Pembelajaran
 Seiring dengan berjalannya waktu disertai dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat,dunia pendidikanpun mendapat pengaruh yang pesat pula.  Sebelum berkembangnya internet, siswa belajar hanya bersumber dari buku atau informasi yang langsung disampaikan dari guru.  Tapii sekarang, komunikasi siswa semakinbaktif dan meluas. Siswa bisa belajar dari buku( text book),ebook, alat peraga,  video atau browsing di internet dan sebagainya. Ada bnyak media yang bisa digunakan. Bahkan tidak ada batasan ruang dan waktu bagi siswa untuk mengakses informasi dari seluruh dunia. Khususnya dalam pembelajaran matematika,media memiliki peran yang besar seperti pada materi bangun ruang, trigonometri dan lainnya.
Dari penjelasan sebelumnya dapat dipahami bahwa Richard E. Mayer (2009:3) mendefinisikan multimedia sebagai presentasi materi dengan menggunakan kata-kata sekaligus gambar-gambar. Vaughan (2011:1) menyatakan bahwa multimedia pembelajaran merupakan kombinasi teks, seni, suara, animasi, dan video yang disampaikan kepada seorang (peserta didik) dengan komputer atau peralatan manipulasi elektronik dan digital yang lain. Melalui gabungan media-media ini pengalaman belajar menjadi sesuatu yang interaktif yang mencerminkan suatu pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

C.      Landasan Teori Multimedia Pembelajaran
Menurut Brunner dalam Media Pembelajaran mengatakan “ada 3 tingkatan utama modus belajar, yaitu : pengalaman langsung (enactive), pengalaman pictorial / gambar (iconic), dan pengalaman abstrak  (symbolic).” Ketiga tingkatan pengalaman itu saling berinteraksi dalam upaya memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang baru.
Agar proses belajar mengajar dapat berhasil dengan baik, siswa sebaiknya diajak untuk memanfaatkan semua alat inderanya. Guru berusaha untuk menampilkan rangsangan atau stimulus yang dapat diproses dengan berbagai indera. Semakin banyak alat indera yang digunakan untuk menerima dan mengolah informasi semakin besar kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan.
Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu. Oleh karena ia melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba.
Adapun beberapa landasan dalam penggunaan media pembelajaran, adalah sebagai berikut:
1. Landasan Filosofis
Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil dari teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Bisa dikatakan, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Tetapi, siswa harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi.
2.  Landasan Psikologis
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak.
3. Landasan Teknologis
Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-bemasalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol.
Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan komponen-komponen sistem pembelajaran yang telah disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasik sehingga menjadisistem pembelajaran yang lengkap. Komponen-komponen ini termasuk pesan, orang, bahan, media, peralatan, teknik, dan latar.
4. Landasan Empiris
Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual.
 Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
5. Landasan Historis
Yang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923 (Arip P Nugroho:2015).
 DAFTAR PUSTAKA
Widyatmojo.2017.Definisi Multimedia Pembelajaran. https://alphamedia-ind.com/2017/04/11/definisi-multimedia-pembelajaran/ (diakses pada tanggal 13 Agustus 2018)
Zakky.2018.pengertian Media Pembelajaran Menurut Para Ahli dan Secara Umum. https://www.zonareferensi.com/pengertian-media-pembelajaran/ (diakses pada tanggal 13 Agustus 2018)
Oktavia. 2017. Landasan Teori Media Pembelajaran.http://sriwahyunioktavia20.blogspot.com/2017/01/landasan-teori-multimedia-pembelajaran.html  (diakses pada tanggal 13 Agustus 2018)


Dari wacana di atas,ada 3 masalah yang penulis sajikan untuk dibahas pada kolom komentarblog ini.

  1. Bagaimana peran guru dalam penggunaan media pembelajaran pada saat proses belajar berlangsung?
  2. Jika ada sekolah atau guru yang masih melarang siswanya untuk membawa HP atau mengakses internet pada saat proses belajar berlangsung,bagaimana menurut pendapat anda?
  3. Penggunakan multimedia dalam pembelajaran hasil belajar siswa diharapkan meningkat.Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat siswa menggunakan media pembelajaran agar diperoleh hasil yang diharapkan?    


Sabtu, 11 Agustus 2018

Pendidikan Abad 21

Ciri abad 21 menurut Kemendikbud adalah tersedianya informasi dimana saja  dan kapan saja (informasi}, adanya implementasi penggunaan mesin (komputasi}, mampu menjangkau segala pekerjaan rutin (otomatisasi) dan bisa dilakukan dari mana  saja  dan kemana saja (komunikasi). Ditemukan bahwa dalam kurun waktu 20  tahun  terakhir  telah terjadi pergeseran pembangunan pendidikan ke arah ICT sebagai salah satu strategi manajemen  pendidikan  abad  21  yang  di  dalamnya  meliputi  tata  kelola  kelembagaan  dan sumber daya manusia ( Soderstrom, From, Lovqvist, & Tornquist, 2011) 1 . Abad ini memerlukan transformasi pendidikan secara menyeluruh sehingga terbangun kualitas guru yang mampu memajukan pengetahuan, pelatihan, ekuitas siswa dan prestasi  siswa  (Darling-Hammond, 2006 ; Azam & Kingdon, 2014).
Ciri abad 21 menurut Hernawan (dalam Hidayat dan Patras) 2 adalah meningkatnya interaksi antar warga dunia baik secara langsung maupun tidak langsung, semakin banyaknya informasi yang tersedia dan dapat diperoleh, meluasnya cakrawala intelektual, munculnya arus keterbukaan dan demokkratisasi baik dalam politik maupun ekonomi, memanjangnya jarak budaya antara generasi tua dan generasi muda, meningkatnya kepedulian akan perlunya dijaga keseimbangan dunia, meningkatnya kesadaran akan saling ketergantungan ekonomis, dan mengaburnya  batas kedaulatan  budaya tertentu  karena tidak terbendungnya informasi.
Hidayat  & Pat ras 3  selanjutnya  menjelaskan  kebutuhan pendidikan  abad 21 menurut Patrick Slattery  dalam bukunya yang berjudul “Curriculum  Development  In The  Postmodern” yaitu pendidikan yang berdasarkan pada beberapa  konsep berikut:
  1. Pendidikan harus diarahkan pada perubahan sosial, pemberdayaan komunitas, pembebasan pikiran, tubuh dan spirit (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Dorothy}
  2. Pendidikan harus berlandaskan pada 7 hal utama (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Thich Nhat Hanh}, yaitu tidak terikat pada teori, ideology, dan agama; jangan berpikir sempit bahwa pengetahuan yang dimiliki adalah yang paling bena r; tidak memaksakan kehendak pada orang lain baik dengan kekuasaan, ancaman, propaganda maupun pendidik an; peduli terhadap sesame; jangan memelihara kebencian dan amarah; jangan kehilangan jatidiri; jangan bekerja di tempat yang menghancurkan manusia dan alam.
  3. Konteks pembelajaran, pengembangan kurikulm dan penelitian diterapkan sebagai kesempatan untuk menghubungkan siswa dengan alam semesta (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh David Ort)
  4. Membuat guru merasa sejahtera dalam kegiatan pembelajaran (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Dietrich Bonhoeffer)
    1. Pendidikan yang  mengimplementasikan  visi  21tcentury.
21th century readiness merupakan kesiapan dalam menyambut abad 21. UNESCO telah membuat  4 (empat) pilar pendidikan  untuk menyongsong abad 21, yaitu:
  1. Learning to how (belajar untuk mengetahui)
  2. Learning to do (belajar untuk melakukan)
  3. Learning to be (belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu mandiri yang berkepribadian)
  4. Learning to live together (belajar untuk hidup bersama)
  5. Pendidikan yang membangun kompetensi “partnership 21st Century Learning” yaitu framework pembelajaran abad 21 yang menuntut peserta didik memiliki keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran, inovasi, keterampilan  hidup dan
Kompetensi  “partnership  21st   Century  Learning”  mengacu  pada  format  pendidikan abad 21 yang diusung oleh Hermawan (2006), yaitu:
  1. Cyber (e-learning) dimana pembelajaran dilakukan dengan mengoptimalkan penggunaan
  2. Open and distance learning dimana pembe lajara abad 21 dapat dilakukan dengan model pembelajaran jarak jauh, tidak terbatas dan dilakukan dengan memanfaatkan bantuan teknologi  informasi dan komunikasi
  3. Quantum Learning, yaitu menerapkan metode belajar yang disesuaikan  dengan cara kerja
  4. Cooperative Learning, yaitu pembelajaran yang menggunakan kelompok sebagai upaya menumbuhkan kerjasama antar
  5. Society Technology Science, yaitu konsep interdisipliner yang diterapkan untuk mengintegrasikan permasalahan dalam ilmu   pengetahuan,   teknologi   dan masyarakat.
  6. Accelerated Learning, yaitu mengembangkan kemampuan dalam menyerap dan memahami informasi secara cepat sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar secara lebih efektif.
1 Sbderstrbrm, T., From, J., Lbvqvist, J & Tornquist, A. (2011). From distance to online education: Educational management  in  the  21th century.  Annual Conference Dublin.
2  Hidayat, R & Patras, Y. E. Pendidikan Abad 21 dan Kuri kulum 2013. Unpak
3  Hidayat, R & Patras, Y. E. Pendidikan Abad 21 dan Kuri kulum 2013. Unpak
4 Asep Herry Hernawan, dkk, 2006. Pengembangan Kuri ku lum dan Pembelajaran. UT Departemen  Pendidikan Nasional, Jakarta