Jumat, 16 November 2018

ICT dalam pembelajaran, inovasi dan perubahan paradigma

Teknologi informasi dan  komunikasi mempermudah  kehidupan manusia. Jika 
menggunakan alat teknologi informasi dan komunikasi, dua benua akan terasa tidak berjarak. Kehadiran  komputer, internet, telepon seluler,  dan berbagai alat teknologi informasi dan komunikasi membuat arus 
informasi semakin lancar. Teknologi  informasi dan komunikasi sangat dirasakan kebutuhan kepentingannya  untuk meningkatkan kualitas  pembelajaran.

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memuat semua teknologi yang berhubungan dengan penanganan informasi. Penanganan  ini meliputi pengambilan,  pengumpulan, pengolahan, 
penyimpanan, penyebaran, dan  penyajian informasi. Jadi, TIK  adalah teknologi yang berhubungan  dengan pengambilan, pengumpulan,  pengolahan, penyimpanan, 
penyebaran, dan penyajian informasi.

Perkembangan dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah memberikan dampak yang  sangat signifikan ke semua aspek  kehidupan manusia. Perkembangan 
ini memiliki dampak semakin terbuka dan tersebarnya informasi dan pengetahuan dari dan ke seluruh  dunia menembus batas, jarak,  tempat, ruang dan waktu.  Pengaruhnya pun meluas keberbagai  kehidupan, termasuk bidang pendidikan. 

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)  atau Information and  Communication Technology (ICT) di  dunia pendidikan, telah mengakibatkan semakin vmenyempitnya dan bahkan  meleburnya dimensi “ruang dan  waktu” yang selama ini menjadi faktor penentu kecepatan dan  keberhasilan penguasaan ilmu dan teknologi oleh umat manusia.  Berbagai upaya peningkatan mutu  pendidikan senantiasa.

Sistem pembelajaran berbasis  TIK ini merupakan revolusi terakhir  atau kelima dalam sistem  pembelajaran. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Eric Ashby 
dalam Rusman dkk, revolusi yang 
terjadi itu adalah sebagai berikut :
1. Revolusi pertama terjadi ketika  orang menyerahkan pendidikan  anaknya kepada seorang guru baik  itu di padepokan, perguruan,  pesantren atau sekolah.

2. Revolusi kedua terjadi ketika  tulisan untuk keperluan  pembelajaran. Melalui tulisan ini dapat membuka akses yang sangat  luas, sehingga informasi dapat  disimpan dan dipanggil kembali.

3. Revolusi ketiga terjadi seiring  dengan ditemukannya mesin cetak  sehingga materi pembelajaran  dapat disajikan melalui media  cetak, seperti buku teks, modul,  majalah dan lain-lain. 

4. Revolusi keempat terjadi ketika  digunakannya perangkat  elektronik dalam kegiatan  pembelajaran seperti radio, tape  recorder dan televisi untuk  pemerataan dan perluasan  pendidikan.

5. Revolusi kelima yaitu saat ini  dengan pengemasan dan  pemanfaatan teknologi, Informasi  dan Komunikasi (TIK) dalam  pembelajaran. Khususnya  teknologi komputer dan internet  untuk kepentingan peningkatan  Kegiatan pembelajaran.

Terkait dengan Perubahan  Paradigma Pembelajaran, BSNP  merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses  pendidikan abad ke-21, yaitu:
(1) dari berpusat pada guru menuju 
berpusat pada pesrta didik,
2) dari satu arah menuju interaktif, 
(3) dari isolasi menuju lingkungan  jejaring, 
(4) dari pasif menuju aktif-menyelidiki, 
(5) dari maya/abstrak menuju konteks 
dunia nyata, 
(6) dari pribadi menuju pembelajaran 
berbasis tim, 
(7) dari luas menuju perilaku khas 
memberdayakan kaidah keterikatan, 
(8) dari stimulasi rasa tunggal menuju 
stimulasi ke sehala penjuru, 
(9) dari alat tunggal menuju alat 
multimedia, 
(10) dari hubungan satu arah bergeser 
menuju kooperatif, 
(11) dari produksi massa menuju  kebutuhan pelanggan, 
(12) dari usaha sadar tunggal menuju 
jamak, 
(13) dari satu ilmu dan teknologi  bergeser menuju pengetahuan  disiplin jamak, 
(14) dari kontrol terpusat menuju  otonomi dan kepercayaan, 
(15) dari pemikiran faktual menuju kritis, dan 
(16) dari penyampaian pengetahuan 
menuju pertukaran pengetahuan.

Pada inovasinya,  Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Di sinilah peran guru untuk membuat kurikulumnya sendiri yang dapat membuat peserta didik beajar secara aktif.
Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin popuper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media TIK khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional.  Sejalan dengan perkembangan TIK itu sendiri pengertian e-learning menjadi lebih luas yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, video tape, transmisi satellite atau komputer (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).
Saat ini e-learning telah berkembang dalam  berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruc-tion)Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning System), LCC (Learner-Cemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dan sebagainya.

Daribartikel di atas,  permasalahan yg dikemukakan oenulis adalah
1. bagaimana menyadarkan guru2 yang blum melek teknologi untk sadar manfaat teknologi dalam pembelajaran, yang msih menganggap oembelajaran konvensional lebih baik?

2. Pada tingkatan usia brp siswa sebaiknya d perkenalkan dengan pembelajran dg ict?

 Daftar pustaka
https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://media.neliti.com/media/publications/164486-ID-sistem-pembelajaran-berbasis-teknologi-i.pdf&ved=2ahUKEwiJnJ7fpNneAhWHpI8KHUf2AlwQFjAEegQICBAB&usg=AOvVaw1eHRkDjrzWfor9HIdPefFH 

https://habibadnan.wordpress.com/2010/12/20/inovasi-kurikulum-pembelajaran-berbasis-ict-information-communication-technology-di-sekolah/  

2 komentar:

  1. permaslahan no 2.
    Penelitian oleh Haugland tahun 1992 menunjukkan bahwa anak usia 3-4 tahun yang telah menggunakan komputer untuk mendukung kegiatan belajarnya mempunyai tingkat perkembangan yang lebih besar dibandingkan dengan anak yang tidak mempunyai pengalaman dengan komputer. Tingkat perkembangannya ini menyangkut kecerdasan, keterampilan verbal dan nonverbal, pengetahuan struktural, ingatan jangka panjang, ketangkasan manual, penyelesaian masalah, abstraksi, dan kemampuan konseptual.

    BalasHapus
  2. anak berusia prasekolah (sekitar usia 3 tahun ke atas) untuk mengenalkan anak dengan media elektronik. Pada usia ini, anak dapat diperkenalkan pada teknologi untuk membantunya belajar. Konten pendidikan pada media elektronik dapat menjadi cara untuk melatih anak mengembangkan idenya dan membantu menyuguhkan gambar dan suara yang dapat menjadi media pembelajaran anak.

    BalasHapus